Bandar Slot 113 Bt Geostasioner Tetap Milik Republik Indonesia


Satelit Nusantara Dua ketika akan dibawa ke orbit oleh Roket Long March 3B punya China di Pusat Penyeluncuran Antariksa Xichang, Sihuan. Tidak sukses mengorbit lantaran kehilangan daya dorong. Poto: PT PSN

Satelit Palapa Nusantara Dua tidak sukses mengorbit lantaran bencana Roket Long March 3B. Menteri Johnny G Plate jamin Slots 113 derajat Bujur Timur masih tetap jadi punya Indonesia.

Warga telekomunikasi Indonesia sedang alami prihatin.Telah terjadi malapetaka. Satelit Palapa Nusantara Dua, punya Konsorsium Indonesia, tidak sukses mengorbit. Roket Long March 3B, yang melaju dari peluncuran pad Xichang Propinsi Sihuan, Tiongkok, Kamis (9/4/2020) malam, tidak sukses capai arahtorinya. Roket jatuh menghempaskan tanah bersama satelit dengan harga USD200 juta di dalamnya.

Sampai saat perhitungan mundur, tidak ada sinyal tanda problem. Long March 3B diluncurkan. Roket terutamanya berpijar bersama-sama dengan 2 roket boosternya di pinggang kanan kiri. Seperti wajarnya, roket pokok itu memiliki bahan bakar cair, ke-2  boosternya memakai propelan padat.

Tenaga besar dari 3 roket itu dibutuhkan manfaat capai daya tendang (thrust) yang besar manfaat mendapatkan kecepatan gerak yang melebihi kecepatan gravitasi. Dalam jam yang singkat, ke-3  roket itu usai bekerja, lepas dari bodi remuk dan atas. Roket tingkat dua di atasnya ambil alih. Dia berpijar dengan propelan cair. Pergerakan gerak roket sudah melebihi kecepatan gravitasi. Namun, daya magnet bumi masih terasa.

Roket tingkat dua dapat bekerja, tukar roket ke-3  yang bakal bawa bergerak keluar orbit rendah. Tapi, di sanalah tampil masalah. Saat roket ke-2  membebaskan diri, roket ke-3  tidak sukses menyala. Roket kehilangan jatuh dan tenaga. Meski sebenarnya, di ujung atas ada kabin yang bawa beberapa satelit, tergolong Satelit Palapa Nusantara Dua.

Satelit Palapa Nusantara Dua itu dibikin dengan tehnologi teranyar HTS (high throughput satellite), yang sediakan kemampuan download 100 kali semakin makin kuat ketimbang satelit lama Ku-Band. Satelit sial itu punya PT Palapa Satelit Nusa Sejahtera (PSNS), perusahaan patungan di antara PT PSN (Pasifik Satelit Nusantara), PT Indosat Ooredoo, serta PT Cerdas Nusantara Sejahtera.

Sedianya, Palapa Nusantara Dua itu dapat isikan slots orbit 113 derajat Bujur Timur, di ketinggian 36.500 km di atas Kota Pontianak. Orbitnya geostasioner, serasi dengan perputaran bumi (kecepatan sudutnya yang sama). Satelit itu dapat difungsikan Indosat Ooredoo sebagai penyuplai jasa satelit buat mendukung usaha tempat broadcasting di Indonesia.

Satelit Palapa Nusantara Dua didesain buat gantikan Satelit Palapa D (kelas Ku-Band) yang selekasnya habis umur teknisnya pada 2020. Palapa D itu hasil Prancis serta dikeluarkan Agustus 2009, dengan juga Roket Long March. Tentang hal Palapa Nusantara dibikin oleh pabrik satelit Tiongkok, China Great Wall Industry Corporation (CGWIC), mulai sejak 2017.

Walau diasuransikan, seperti info yang dikatakan Dirut PT PSNS Johanes Indri Trijatmojo, bencana tetap malapetakanya. Peristiwa ini dapat membuat sibuk lantaran beban Palapa D harus dipindah ke satelit lain. Buat bangun satelit baru dibutuhkan waktu sekurang-kurangnya 2 tahun sampai dapat diluncurkan.



Tidak Berpindah Tangan

Berkaitan bencana itu, Menteri Komunikasi serta Informatika (Kominfo) Johnny G Plate menegaskan, slots orbit 113 BT itu akan terkuasai Indonesia. "Kami telah melakukan komunikasi dengan ITU (International Telecommunication Union) bersangkutan dengan tidak sukses mengorbitnya satelit itu. Indonesia masih tetap memakai slots orbit itu," tuturnya. Maka tidak ada ketetapan berpindah tangan oleh wewenang telekomunikasi internasional itu.

Opini Johnny itu disokong Dirjen SDPPI (Sumber Daya, Piranti Pos, serta Informatika) Kemenkominfo Ismail. Menurut Ismail, pemerintahan Indonesia dapat bekerjasama dengan ITU. Mengarah sejumlah kasus tidak sukses orbit satelit, Indonesia umumnya mendapat waktu perpanjangan, serta masih tetap jadi punya Indonesia. Deadline 15 Juni 2020 ke ITU.

"Pemerintahan dapat melakukan komunikasi dengan ITU, biar slots masih tetap dipakai Indonesia. Pemerintahan memiliki komitmen jaga service broadband punya Indonesia. Pemerinah masih tetap jaga service, khususnya mobile broadband," kata Johhny G Plate dalam konfrensi wartawan, Jumat (10/4/2020)

Seperti dikatakan Dirjen SDPPI Ismail, penyimpangan, tidak sukses mengorbit, bukanlah hal yang pertama di dunia, bukan yang pertama di Indonesia. Pada 3 Februari 1984, satelit Palapa B2 hasil Hughes punya Perumtel (PT Telkom), yang diterbangkan pesawat ruangan angkasa ulang-alik Challenger F4 tidak sukses capai orbit di geostasioner. Namun, sukses diambil oleh sarana STS-51A pada November pada tahun yang sama.

Satelit substitusi, Palapa B2P dikeluarkan 3 tahun lalu, namun berubah pemilikan jadi punya PT Satelindo. Waktu umurnya habis ditukar tempatnya oleh Satelit Palapa C1. Sementara sisa satelit B2 yang diperbarui oleh Sattel Technologies, dikeluarkan kembali bernama Palapa B2R pada April 1990, punya Perumtel, dari Kennedy Ruang Center, Cape Canaveral, AS.

Nasib satelit Palapa C1 punya PT Satelindo tidak sama bagus satelit B2R, lantaran sama dengan satelit B2, dia tidak sukses mengorbit. Satelit hasil Hughes yang dikeluarkan dari Kennedy Ruang Center pada 31 Januari 1996 serta digendong roket Atlas-2AS itu tidaklah sampai ke orbit geostasioner.

Kelebihan Upload serta Download

Apa sebagai kelebihan satelit Palapa Nusantara Dua? Satelit itu menggendong tehnologi baru yang punyai kemampuan upload serta download sampai 12 giga per detik (gbps).

Tidak serupa dengan satelit konservatif, kekuatan satelit HTS tidak diukur dari lingkup (foot print) tetapi dari kekuatan throughput-nya, kuat di free-to-air, direct to home (DTH), service broadcast langsung ke rumah. Semua bisa diperoleh dengan antena simpel, tidak perlu dengan antena parabola yang besar.

Memaksimalkan potensinya, satelit HTS ini dijadwalkan punyai titik dokumen (beam spot) sejumlah sembilan buat lokasi Nusantara. Lingkupnya, footprint, capai seluruhnya ASEAN sampai Timur Tengah.

Waktu satelit konservatif memperlihatkan kekuatan dari jumlahnya transponder yang dipunyai, satelit HTS dipandang dari lebar pita (bandwidth) yang ditransmisikan. Buat transmisi sejumlah 512 kbps, satelit konservatif perlu lebar pita sampai satu megahertz (MHz). Jadi buat satelit dengan 36 MHz bisa diperoleh kemampuan 18 mbps serta dengan tehnologi C-in-C, bandwidth dapat makin irit.

Saat ini keistimewaan serta kekuatan satelit HTS Palapa Nusantara Dua tinggallah kenangan. Satelit Palapa D yang sesungguhnya dapat diganti lantaran sesaat lagi habis zaman umur teknisnya dapat dibuang ke angkasa bertambah tinggi kembali, mengembara langit entahlah sampai kapan.

"Kami dapat cari satelit alternatifnya biar service yang sekian lama ini dikerjakan satelit Palapa D tidak terganggu. Yang terang, satelit Palapa D masih bekerja secara normal 100 persen. Kami saat ini sedang cari satelit substitusi buat layani pembeli yang ada," kata Bayu Hanantasena, Chief Business Officer Indosat.